Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Di Kabanjahe.
KABANJAHE – Wartarealitas – Proyek IRPOM (Irigasi Perpompaan) bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2023 lalu, di kawasan Sabah Budan Mandin, Kecamatan Mardingding, Kabupaten Karo, yang semula diharapkan menjadi angin segar bagi produktivitas pangan, kini justru menyisakan pilu bagi para petani lokal.
Pasalnya, hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo Michael Purba terkesan “tutup mata” dan enggan merespons keluhan masyarakat terkait kendala di lapangan.
Janji Manis yang Berujung Kekecewaan
Para petani di Sabah Budan Mandin mengungkapkan bahwa pelaksanaan proyek IRPOM ini dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan riil di lahan mereka. Beberapa titik pembangunan irigasi justru dinilai serampangan dan tidak berfungsi maksimal dalam mengalirkan air ke petak-petak sawah warga.
”Kami sudah mencoba bersuara, kami sampaikan bahwa kondisi di lapangan tidak sesuai. Tapi sepertinya suara kami hanya dianggap angin lalu oleh pihak Dinas,” ujar salah satu perwakilan petani dengan nada kecewa.
● Apatisme Birokrasi di Tengah Ancaman Gagal Panen
Ketidakpedulian Kadis Pertanian Kabupaten Karo ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Di saat petani berpacu dengan waktu musim tanam, ketidakjelasan status dan perbaikan proyek IRPOM ini justru mengancam stabilitas ekonomi warga yang bergantung sepenuhnya pada hasil bumi.

Beberapa poin utama yang dikeluhkan petani antara lain:
Kualitas Pengerjaan material dan konstruksi yang dianggap tidak kokoh
Distribusi Air: Pipa dibiarkan tergeletak dipermukaan tanah, beberapa titik jalur pipa distribusi terputus dari mulai lokasi rumah pompa hingga ke sumber air.
Minimnya Sosialisasi dan transparansi : Petani merasa tidak dilibatkan dalam proses perencanaan teknis di lapangan, demikian juga dengan keterbukaan informasi publik, plank proyek tidak terpasang sejak awal pelaksanaan kegiatan .

”Seharusnya Kadis dan Ka UPT Dinas Pertanian Kecamatan Mardingding turun ke lapangan, lihat langsung bagaimana kondisi kami di Sabah Budan Mandin. Jangan hanya duduk di belakang meja dan makan gaji buta, sementara nasib petani di ujung tanduk.” Kesal warga lainnya.
(Red)



























